Love
Story
Semua berawal dari hari-hari biasa di kantor.
Aku baru bergabung di divisi F.A.T, masih belajar menyesuaikan diri dengan ritme kerja dan orang-orang baru.
Di sana, aku bertemu dengannya — sosok yang sudah lebih dulu di tim Finance, telaten, ramah, tapi tampak sibuk dan sedikit lelah. Belakangan aku tahu, ia sedang berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah padatnya pekerjaan.
Melihatnya sering bingung dan terbebani, aku iseng berkata,
“Kalau butuh teman belajar atau butuh arahan soal skripsi, boleh hubungi aku. Anggap saja aku dosen pembimbing sementara.”
Awalnya kami hanya membahas hal-hal seputar kuliah dan penelitian, tapi seiring waktu, jadwal belajar itu menjadi waktu yang paling aku tunggu.
Dari membahas teori dan data, kami mulai berbagi cerita tentang keseharian, mimpi, dan rencana masa depan.
Tanpa disadari, dari “dosen pembimbing skripsi”, aku perlahan berubah menjadi “pembimbing hidupnya”.
Bukan lagi sekadar memberi saran tentang tulisan, tapi juga belajar berjalan bersama dalam setiap keputusan dan perjalanan.
Kini, aku percaya bahwa pertemuan kami bukan kebetulan.
Dari ruang kerja yang sederhana, Tuhan menulis cerita yang indah —
mengubah peran dosen pembimbing menjadi pembimbing di keluarga kecil kami nanti.